Hehe pertama nya gw gugup banget niih huhu soalnya pertama kali gw kerja dan akhirnya pas gw interview di terima hehe lumayan jadi kasir heheh di cafe dan lumayan bisa belajar juga bikin minuman sama bikin makanan heheh. Nih temen*ku di cafeee u.u.
Coretan dalam Hidupku
Islamic thoughts & quotes to make you think. If we learn one new thing about our deen everyday we open our minds to a better day. :)
Kamis, 29 Agustus 2013
Jumat, 24 Mei 2013
Akhirnya gw lulus dan Bye PUTIH ABU-ABU
Aku seneng banget sama hari ini aku sudah bebas sam yang namanya seragam putih abu-abu yang tiap hari dipakai. Hihi sekarang gw uda engga ada beban dengan yang namanya sekolah. Dan sekarang gimana gw menanggapi tahap selanjutnya. Apakah gw kuliah apa kerja? hahaha dan akhirnya aku uda fix memilih kerja hahaha enak kan kerja bisa dapet duit dan tidak bergantung sama pelajaran xixiixixi
hehe nih gw kasih foto* pas coret-coret heheh
hehe nih gw kasih foto* pas coret-coret heheh
Kamis, 16 Mei 2013
Arti tahun 2013 bagiku :")
Hello blogger jumpa lagi nih hehe telah sekian lama gw ga pernah mosting d blogger ini yang mulai usang -_-
tahun 2013 ini sangat banyak banget kenangan dan kisah* gw lulus sekolah :D
Januari awal sihh itu awal pengorbanan gw buat masuk kelas 3 yang mulai sibuk*nya try out* kota dan gw uda ga pernah yang namanya maen apa ajojhing lagi sam temen-temen gw :( good bye ajojhing hunting shopping with my friends ngopi ngancruk nyalon semua waktu uda gw korbanin buat belajar belajar dan les hash -_- Sekolah brangkat pagi pulang sore bimbel pulang mandi langsung les sampe malem semua demi ujian nasional :) Semangat LULUS ajaa deh ehehhe nilai see ga terlalu gw pikirin hehhe. Tiap hari tuh aktifitas gw d bulan januari sampe april dan akhirnya dateng juga hari H UJIAN NASIONAL 2013 Ganbatte 4 hari ujian nasional yang soalnya satu orang beda sama yang lain satu kelas soal beda semua jadi kita harus mandiri. Akhirnya pas pengumuman itu hari yang paling dagdigdug nemeen :""" Hasil pengumuman itu pun ga d ambil orang tua melainkan kita sendiri siswa-siswi yang harus ngeliat sendiri secara ONLINE dan itu pun koneksi d internet susah dan lemottt hash aku uda nungguin malem* biar ga tidur biar bisa ngeliat pengumuman pas jam 12 malem eeh ternyata ga bisaa book gw jengkel bingitt --a Dan pas itu pun aku baru bisa buka pas mau keluar sama si bancii itu eh la ko bisanyaa error dan akhirnya gw lulus hehehehehe
tahun 2013 ini sangat banyak banget kenangan dan kisah* gw lulus sekolah :D
Januari awal sihh itu awal pengorbanan gw buat masuk kelas 3 yang mulai sibuk*nya try out* kota dan gw uda ga pernah yang namanya maen apa ajojhing lagi sam temen-temen gw :( good bye ajojhing hunting shopping with my friends ngopi ngancruk nyalon semua waktu uda gw korbanin buat belajar belajar dan les hash -_- Sekolah brangkat pagi pulang sore bimbel pulang mandi langsung les sampe malem semua demi ujian nasional :) Semangat LULUS ajaa deh ehehhe nilai see ga terlalu gw pikirin hehhe. Tiap hari tuh aktifitas gw d bulan januari sampe april dan akhirnya dateng juga hari H UJIAN NASIONAL 2013 Ganbatte 4 hari ujian nasional yang soalnya satu orang beda sama yang lain satu kelas soal beda semua jadi kita harus mandiri. Akhirnya pas pengumuman itu hari yang paling dagdigdug nemeen :""" Hasil pengumuman itu pun ga d ambil orang tua melainkan kita sendiri siswa-siswi yang harus ngeliat sendiri secara ONLINE dan itu pun koneksi d internet susah dan lemottt hash aku uda nungguin malem* biar ga tidur biar bisa ngeliat pengumuman pas jam 12 malem eeh ternyata ga bisaa book gw jengkel bingitt --a Dan pas itu pun aku baru bisa buka pas mau keluar sama si bancii itu eh la ko bisanyaa error dan akhirnya gw lulus hehehehehe
Selasa, 08 Januari 2013
Bahan UKK 2013
Situs Trowulan adalah satu kawasan di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, tempat ditemukannya
banyak peninggalan kuna. Diduga kuat, situs ini adalah salah satu bekas ibukota
kerajaan Majapahit.
Kitab Negarakertagama menyebutkan deskripsi puitis mengenai keraton Majapahit dan lingkungan
sekitarnya, tetapi penjelasannya hanya terbatas pada perihal upacara kerajaan
dan keagamaan. Detil keterangannya tidak jelas, beberapa ahli arkeologi yang
berusaha memetakan ibu kota kerajaan ini muncul dengan hasil yang berbeda-beda.
Penelitian dan
penggalian di Trowulan pada masa lampau dipusatkan pada peninggalan monumental
berupa candi, makam, dan petirtaan (pemandian). Belakangan ini penggalian arkeologi telah menemukan beberapa peninggalan aktivitas industri, perdagangan, dan
keagamaan, serta kawasan permukiman dan sistem pasokan air bersih. Semuanya ini
merupakan bukti bahwa daerah ini merupakan kawasan permukiman padat pada abad
ke-14 dan ke-15.
Trowulan telah
dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2009.
Deskripsi berdasarkan sumber kontemporer
Menurut Prapanca dalam kitab Negarakertagama; keraton Majapahit dikelilingi tembok bata
merah yang tinggi dan tebal. Di dekatnya terdapat pos tempat para punggawa
berjaga. Gerbang utama menuju keraton (kompleks istana) terletak di sisi utara
tembok, berupa gapura agung dengan pintu besar terbuat dari besi berukir. Di
depan gapura utara terdapat bangunan panjang tempat rapat tahunan para pejabat
negara, sebuah pasar, serta sebuah persimpangan jalan yang disucikan.
Masuk ke dalam kompleks
melalui gapura utara terdapat lapangan yang dikelilingi bangunan suci
keagamaan. Pada sisi barat lapangan ini terdapat pendopo yang dikelilingi kanal
dan kolam tempat orang mandi. Pada ujung selatan lapangan ini terdapat jajaran
rumah yang dibangun diatas teras-teras berundak, rumah-rumah ini adalah tempat
tinggal para abdi dalem keraton. Sebuah gerbang lain menuju ke lapangan ketiga yang dipenuhi
bangunan dan balairung agung. Bangunan ini adalah ruang tunggu
bagi para tamu yang akan menghadap raja.
Kompleks istana tempat
tinggal raja terletak di sisi timur lapangan ini, berupa beberapa paviliun atau
pendopo yang dibangun di atas landasan bata berukir, dengan tiang kayu besar
yang diukir sangat halus dan atap yang dihiasi ornamen dari tanah liat. Di luar
istana terdapat kompleks tempat tinggal pendeta Shiwa, bhiksu Buddha, anggota keluarga kerajaan, serta pejabat dan ningrat (bangsawan). Lebih
jauh lagi ke luar, dipisahkan oleh lapangan yang luas, terdapat banyak kompleks
bangunan kerajaan lainnya, termasuk salah satunya kediaman Mahapatih Gajah
Mada. Sampai disini penggambaran Prapanca mengenai ibu kota Majapahit berakhir.
Sebuah catatan dari
China abad ke-15 menggambarkan istana Majapahit sangat bersih dan terawat
dengan baik. Disebutkan bahwa istana dikelilingi tembok bata merah setinggi
lebih dari 10 meter serta gapura ganda. Bangunan yang ada dalam kompleks istana
memiliki tiang kayu yang besar setinggi 10-13 meter, dengan lantai kayu yang
dilapisi tikar halus tempat orang duduk. Atap bangunan istana terbuat dari
kepingan kayu (sirap), sedangkan atap untuk
rumah rakyat kebanyakan terbuat dari ijuk atau jerami.
Sebuah kitab tentang
etiket dan tata cara istana Majapahit menggambarkan ibu kota sebagai:
"Sebuah tempat disitu kita tidak usah berjalan melalui sawah". Relief candi dari zaman Majapahit tidak menggambarkan suasana perkotaan, akan tetapi
menggambarkan kawasan permukiman yang dikelilingi tembok. Istilah 'kuwu' dalam
Negarakertagama dimaksudkan sebagai unit permukiman yang dikelilingi tembok,
tempat penduduk tinggal dan dipimpin oleh seorang bangsawan. Pola permukiman seperti ini merupakan ciri kota pesisir Jawa abad ke-16
menurut keterangan para penjelajah Eropa. Diperkirakan ibu kota Majapahit
tersusun atas kumpulan banyak unit permukiman seperti ini.
Penemuan
Reruntuhan kota kuno di
Trowulan ditemukan pada abad ke-19. Dalam laporan Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai gubernur Jawa dari 1811 sampai 1816, disebutkan
bahwa: "Terdapat reruntuhan candi.... tersebar bermil-mil jauhnya di
kawasan ini." Saat itu kawasan ini merupakan hutan jati yang lebat
sehingga survei dan penelitian yang lebih rinci tidak mungkin dilaksanakan.
Meskipun demikian, Raffles, yang sangat berminat pada sejarah dan kebudayaan
Jawa, terpesona dengan apa yang dilihatnya dan menjuluki Trowulan sebagai
'Kebanggaan Pulau Jawa'.
Situs Arkeologi
Peta situs Trowulan. Titik merah adalah situs arkeologi, warna biru muda
adalah bekas kanal kuna.
Penggalian di sekitar
Trowulan menunjukkan sebagian dari permukiman kuno yang masih terkubur lumpur
sungai dan endapan vulkanikbeberapa meter di bawah
tanah akibat meluapnya Kali Brantas dan aktivitas Gunung Kelud. Beberapa situs
arkeologi tersebar di wilayah Kecamatan Trowulan. Beberapa situs tersebut dalam
keadaan rusak, sedangkan beberapa situs lainnya telah dipugar. Kebanyakan bangunan
kuno ini terbuat dari bahan bata merah.
Candi Tikus
Candi Tikus adalah kolam pemandian ritual (petirtaan).
Kolam ini mungkin menjadi temuan arkeologi paling menarik di Trowulan. Nama
'Candi Tikus' diberikan karena pada saat ditemukan tahun 1914, situs ini
menjadi sarang tikus. Dipugar menjadi kondisi sekarang ini pada tahun 1985 dan
1989, kompleks pemandian yang terbuat dari bata merah ini berbentuk cekungan
wadah berbentuk bujur sangkar. Di sisi utara terdapat sebuah tangga menuju dasar
kolam. Struktur utama yang menonjol dari dinding selatan diperkirakan mengambil
bentuk gunung legendaris Mahameru. Bangunan yang tidak lagi lengkap ini berbentuk teras-teras persegi yang dimahkotai
menara-menara yang ditata dalam susunan yang konsentris yang menjadi titik
tertinggi bangunan ini.
Gapura Bajang Ratu
Tidak jauh dari Candi
Tikus, di desa Temon berdiri gapura Bajang Ratu, sebuah gapura paduraksa anggun dari bahan bata merah yang
diperkirakan dibangun pada pertengahan abad ke-14 M. Bentuk bangunan ini
ramping menjulang setinggi 16,5 meter yang bagian atapnya menampilkan ukiran
hiasan yang rumit. Bajang ratu dalam bahasa Jawa berarti 'raja (bangsawan) yang kerdil atau cacat.'
Tradisi masyarakat sekitar mengkaitkan keberadaan gapura ini dengan Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit.
Berdasarkan legenda ketika kecil Raja Jayanegara terjatuh di gapura ini dan
mengakibatkan cacat pada tubuhnya. Nama ini mungkin juga berarti "Raja
Cilik" karena Jayanegara naik takhta pada usia yang sangat muda.
Sejarahwan mengkaitkan gapura ini dengan Çrenggapura (Çri Ranggapura) atau
Kapopongan di Antawulan (Trowulan), sebuah tempat suci yang disebutkan dalam Negarakertagama sebagai pedharmaan (tempat suci) yang dipersembahkan untuk arwah Jayanegara yang wafat pada 1328.
Gapura Wringin Lawang
Wringin Lawang terletak tak jauh ke selatan dari jalan
utama di Jatipasar. Dalam bahasa Jawa,
"Wringin Lawang" berarti "Pintu Beringin". Gapura agung ini
terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5
meter. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya
'candi bentar' atau tipe gerbang terbelah. Gaya arsitektur seperti ini mungkin muncul
pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali. Kebanyakan
sejarahwan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleks bangunan
penting di ibu kota Majapahit. Dugaan mengenai fungsi asli bangunan ini
mengundang banyak spekulasi, salah satu yang paling populer adalah gerbang ini
diduga menjadi pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada.
Candi Brahu
Di desa Bejijong terdapat Candi Brahu. Candi ini merupakan satu-satunya bangunan suci tersisa yang masih cukup
utuh dari kelompok bangunan-bangunan suci yang pernah berdiri di kawasan ini.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, di candi inilah tempat diselenggarakan
upacara kremasi (pembakaran jenazah) empat raja pertama Majapahit. Meskipun
dugaan ini sulit dibuktikan, namun bukti fisik menunjukkan bangunan ini
merupakan bangunan suci peribadatan yang diduga adalah bangunan suci untuk
memuliakan anggota keluarga kerajaan yang telah wafat. Mengenai siapakah tokoh
atau raja Majapahit yang dimuliakan di candi ini masih belum jelas. Di dekat
Candi Brahu terdapat reruntuhan Candi Gentong.
Makam Putri Cempa
Makam Putri Cempa adalah sebuah makam bercorak Islam yang dipercaya masyarakat setempat
merupakan makam salah satu istri atau selir raja Majapahit yang berasal dari Champa. Menurut tradisi lokal, Putri Cempa (Champa) yang wafat tahun 1448 adalah
seorang muslimah yang menikahi salah seorang raja Majapahit terakhir yang
akhirnya berhasil dibujuknya untuk masuk Islam. [1]
Kolam Segaran
Kolam Segaran adalah kolam besar berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 x 500 meter
persegi. Nama 'Segaran' berasal dari bahasa Jawa segarayang berarti 'laut',
mungkin masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar ini sebagai miniatur
laut. Tembok dan tanggul bata merah mengelilingi kolam yang sekaligus memberi
bentuk pada kolam tersebut. Saat ditemukan oleh Henry Maclaine Pont pada tahun 1926, struktur tanggul dan tembok bata merah tertimbun tanah dan
lumpur. Pemugaran dilakukan beberapa tahun kemudian dan kini kolam Segaran
difungsikan oleh masyarakat setempat sebagai tempat rekreasi dan kolam
pemancingan.
Fungsi asli kolam ini
belum diketahui, akan tetapi penelitian menunjukkan bahwa kolam ini memiliki
beberapa fungsi, antar lain sebagai kolam penampungan untuk memenuhi kebutuhan
air bersih penduduk kota Majapahit yang padat, terutama pada saat musim
kemarau. Dugaan populer lainnya adalah kolam ini digunakan sebagai tempat mandi
dan kolam latihan renang prajurit Majapahit, di samping itu kolam ini diduga
menjadi bagian taman hiburan tempat para bangsawan Majapahit menjamu para duta
dan tamu kerajaan.
Candi Menak Jingga
Di sudut timur laut
kolam Segaran terdapat reruntuhan Candi Menak Jingga. Bangunan ini kini
hanya tersisa reruntuhannya berupa bebatuan yang terpencar dan fondasi dasar
bangunan yang masih terkubur di dalam tanah. Pemugaran candi ini tengah
berlangsung. Keunikan bangunan ini adalah bangunan ini terbuat dari batu
andesit pada lapisan luarnya, sedangkan bagian dalamnya terbuat dari bata
merah. Hal yang paling menarik dari bangunan ini adalah pada bagian atapnya
terdapat ukiran makhluk ajaib yang diidentifikasi sebagai Qilin, makhluk ajaib dalam mitologiChina. Temuan ini mengisyaratkan bahwa terdapat hubungan budaya yang cukup
kuat antara Majapahit dengan Dinasti Ming di China. Tradisi setempat mengkaitkan
reruntuhan ini dengan pendopo (paviliun) Ratu Kencana Wungu, ratu Majapahit dalam
kisah Damarwulan dan Menak Jingga.
Situs Watu Umpak
Di Situs Watu Umpak, terdapat beberapa alas
batu tempat mendirikan tiang kayu. Diperkirakan merupakan bagian dari bangunan
kayu. Karena terbuat dari bahan organik, bangunan kayu telah musnah dan hanya
menyisakan alas batu.
Makam Troloyo
Di kompleks Makam Troloyo Desa Sentonorejo ditemukan beberapa batu nisan bercorak Islam. Kebanyakan batu nisan
tersebut berangka tahun 1350 dan 1478. Temuan ini membuktikan bahwa komunitas muslim bukan hanya telah hadir di Jawa pada
pertengahan abad ke-14, tapi juga sebagai bukti bahwa agama Islam telah diakui
dan dianut oleh sebagian kecil penduduk ibu kota Majapahit. Penduduk setempat
percaya bahwa di makam Troloyo terdapat makam Raden Wijaya. Setiap hari Jumat Legi diadakan ziarah di makam ini.[2]
Situs lainnya
Situs-situs penting
lainnya antara lain:
·
Situs pengrajin emas dan perunggu
·
Nglinguk
Rumah
Penggalian arkeologi mengungkapkan lantai bata dan dinding permukiman. Dalam beberapa kasus
ditemukan dua atau tiga lapisan bangunan yang bertumpuk. Permukiman ini
dilengkapi dengan sumur dan saluran air. Ditemukan pula tempat penyimpanan air
dan sumur yang dibatasi susunan bata dan tembikar.
Industri
Banyak perhiasan emas
yang berasal masa ini telah ditemukan di Jawa Timur. Meskipun tidak terdapat
banyak tambang emas di Jawa, impor emas dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi
memungkinkan pengrajin emas untuk berproduksi dan bekerja di Jawa.
Salah satu desa di
Trowulan disebut Kemasan, yang berasal dari kata mas yang berarti emas. Perhiasan emas serta peralatan pengrajin emas ditemukan
di dekat daerah ini. Mangkuk tembikar kecil yang mungkin pernah digunakan untuk
melumerkan emas, alas tempa perunggu serta batu rata bundar berkaki tiga yang
digunakan sebagai alas untuk menempa dan mengukir logam. Sejumlah besar tanah
liat yang digunakan untuk melumerkan dan mencetak perunggu juga ditemukan di
dusun Pakis. Beberapa perunggu digunakan untuk mencetak uang gobog, koin besar yang sering digunakan sebagai azimat. Beberapa benda logam
lain juga ditemukan, diantaranya lampu perunggu berukir, wadah air, genta, dan
benda-benda lain yang mungkin digunakan untuk upacara keagamaan dan instrumen
musik gendang perunggu. Benda serupa yang terbuat dari kayu dan bambu masih
dapat ditemukan di Jawa dan Bali. Banyak juga ditemukan peralatan besi yang
mungkin didatangkan ke Jawa karena Jawa memiliki sedikit tambang bijih besi.
Uang dan Pasar
Naskah Nawanatya menyebutkan mengenai pejabat kerajaan yang
bertugas untuk melindungi pasar. 'Delapan ribu keping uang tunai tiap harinya'
diterima pejabat ini. Uang tunai yang dimaksud dalam naskah ini adalah uang
kepeng Cina, yang menjadi mata uang
resmi Majapahit sejak tahun 1300, menggantikan sebagian fungsi mata uang emas dan perak yang telah digunakan selama berabad-abad. Uang logam atau koin China ini
disukai karena tersedia dalam nilai kecil atau uang receh, sangat cocok untuk
transaksi sehari-hari di pasar. Temuan ini menggambarkan perubahan ekonomi di
Trowulan yang ditandai dengan munculnya usaha dan pekerjaan yang lebih
terspesialisasi, pembayaran dengan upah, dan perolehan barang kebutuhan
sehari-hari dengan cara jual-beli. Bukti penting persepsi masyarakat Jawa abad
ke-14 terhadap uang tergambarkan dalam wujud celengan babi dengan lubang di punggungnya untuk
memasukkan uang logam. Hubungan antara figur babi dengan wadah uang sangat
jelas. Dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, kata 'celengan' dapat berarti wadah tepat menyimpan uang atau menabung.
Sedangkan akar katanya sendiri 'celeng' yang berarti babi hutan. Wadah uang
dalam bentuk lain juga ditemukan.
Tembikar
Seni tembikar adalah kegiatan utama masyarakat Majapahit. Kebanyakan perabot tembikar
digunakan untuk keperluan rumah tangga, seperti untuk memasak atau wadah
penyimpanan, dengan hiasan terbatas pada bentuk garis-garis cat merah. Lampu
minyak kelapa dari tembikar juga umum ditemukan. Tembikar terhalus buatannya umumnya
berupa wadah seperti gentong, guci, dan kendi dengan dinding yang tipis, bentuk yang indah, serta permukaan halus
berkilau warna merah yang didapat dengan cara pengampelasan baik sebelum atau
sesudah pembakaran. Karya tembikar ini dipastikan sebagai hasil karya pengrajin
tembikar yang mahir dan profesional. Wadah air adalah produk tembikar urban
utama Majapahit dan banyak gentong air bulat ditemukan. Ada pula wadah air
berbentuk kotak yang dihiasi motif pemandangan bawah air dan pemandangan
lainnya.
Patung tembikar dari
tanah liat diproduksi dalam jumlah besar dan menggambarkan banyak hal, mulai
dari figur dewa, manusia, hewan, miniatur bangunan, dan pemandangan. Fungsi pastinya belum diketahui, mungkin
memiliki banyak fungsi. Beberapa figur tanah liat mungkin merupakan bagian dari
kuil kecil tempat persembahyangan di masing-masing rumah penduduk seperti yang
kini ada di Bali. Contoh dari barang
tembikar dalam bentuk miniatur bangunan dan hewan juga ditemukan di dekat
bangunan suci di Gunung Penanggungan. Beberapa figur lainnya
merupakan penggambaran yang jenaka atas orang-orang asing dan pendatang di
Majapahit, mungkin secara sederhana juga digunakan sebagai mainan anak-anak.
Taman Majapahit
Menjelang akhir tahun
2008, pemerintah Indonesia menyeponsori eksplorasi besar-besaran di situs yang
dipercaya sebagai bekas lokasi istana Majapahit. Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia menyatakan bahwa
Taman Majapahit akan dibangun di kawasan ini dan akan rampung pada tahun 2009.
Pembangunan kawasan ini bertujuan untuk mencegah kerusakan situs Trowulan
akibat industri pembuatan bata rumahan yang tumbuh banyak di kawasan ini.[3] Taman Majapahit ini memperluas area Museum Trowulan yang telah ada dan menjadi sarana wisata edukasi dan rekreasi yang bertema
sejarah Majapahit.
Akan tetapi, proyek ini
menimbulkan kontroversi dan mengundang protes dari arkeolog dan sejarahwan
karena pembangunan fondasi bangunan Pusat Informasi Majapahit di sebelah selatanMuseum Trowulan telah merusak situs arkeologi tersebut.
Struktur tembok bata dan sumur jobong yang sangat berharga berserakan dan rusak di lokasi pembangunan. Pemerintah
berdalih bahwa metode penggalian yang diterapkan tidak merusak situs jika
dibandingkan dengan metode pengeboran.[4] Sejak saat itu pembangunan Taman Majapahit
ditunda untuk meneliti dampak pembangunan terhadap situs arkeologi.
Museum Trowulan
| |
Murid sekolah dasar tengah memerhatikan koleksi Museum Trowulan. |
|
Didirikan
|
1987
|
Lokasi
|
|
Museum Trowulan adalah museum arkeologi yang terletak di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Museum ini dibangun untuk menyimpan berbagai artefak dan temuan arkeologi
yang ditemukan di sekitar Trowulan. Tempat ini adalah salah satu lokasi
bersejarah terpenting di Indonesia yang berkaitan dengan sejarah kerajaan Majapahit[1].
Kebanyakan dari koleksi
museum ini berasal dari masa kerajaan Majapahit, akan tetapi koleksinya juga
mencakup berbagai era sejarah di Jawa Timur, seperti masa kerajaan Kahuripan, Kediri, dan Singhasari. Museum ini terletak di tepi barat kolam Segaran. Museum Trowulan adalah
museum yang memiliki koleksi relik yang berasal dari masa Majapahit terlengkap
di Indonesia.
Sejarah
Sejarah Museum Trowulan
berkaitan erat dengan sejarah situs arkeologi Trowulan. Reruntuhan kota kuna di Trowulan ditemukan pada abad ke-19. Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur jenderal Jawa antara tahun 1811 sampai tahun 1816
melaporkan keberadaan reruntuhan candi yang tersebar pada kawasan seluas
beberapa mil. Saat itu kawasan ini ditumbuhi hutan jati yang lebat sehingga tidak memungkinkan
untuk melakukan survei yang lebih terperinci.
Keperluan mendesak untuk
mencegah penjarahan dan pencurian artefak dari situs Trowulan adalah alasan
utama dibangunnya semacam gudang penyimpanan sederhana yang akhirnya berkembang
menjadi Museum Trowulan.[2] Museum ini didirikan oleh Henri Maclaine
Pont, seorang arsitek Belanda sekaligus seorang arkeolog, serta berkat peran
Bupati Mojokerto, Kanjeng Adipati Ario Kromodjojo Adinegoro.[3]
Museum baru secara resmi
dibuka pada tahun 1987.[4] Bangunan museum ini mencakup lahan seluas
57.625 meter persegi, bangunan ini menampung koleksi Museum Trowulan lama serta
berbagai arca batu yang sebelumnya disimpan di Museum Mojokerto.
Pembangunan museum baru
telah diajukan di kawasan ini [5] dan lokasi ini telah diusulkan untuk
menjadi kawasan Warisan Dunia UNESCO [6] [7]
Koleksi
Kini museum tidak hanya
menyimpan dan memamerkan peninggalan arkeologi dari masa Majapahit, tetapi juga
menampilkan berbagai temuan arkeologi yang ditemukan di seluruh Jawa Timur.
Mulai dari era raja Airlangga, Kediri, hingga era Singhasari dan Majapahit.
Di antara koleksi museum
ini terdapat salah satu koleksi terkenal, yakni arca raja Airlangga yang digambarkan sebagai dewa Wishnu tengah mengendarai Garuda, dari Candi Belahan.
Sebuah arca bersayap yang dianggap sebagai perwujudan raja Blambangan legendaris,
Menak Jinggo. Bagian dari bangunan candi yang ditemukan dari situs di
Ampelgading Malang. Sebuah patung yang menggambarkan kisah Samodramanthana,
atau "Pengadukan Lautan Susu" yang terukir sangat indah
Pendopo Agung Trowulan adalah sebuah bangunan pendopo Jawa
bergaya Joglo yang dibangun antara tahun 1964 – 1973 oleh Kodam-V Brawijaya,
berada di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Bangunan itu konon
berada di lokasi dimana dahulu berdiri Pendopo Agung Kerajaaan Majapahit,
tempat Mahapatih Gajahmada
mengucapkan Sumpah Palapa yang terkenal itu.
Pintu gerbang Pendopo Agung Trowulan bergaya Jawa kuno yang berada di pintu masuk ke Pendopo.
Patung Gajah Mada Pendopo Agung Trowulan yang diresmikan oleh Komando Pusat Polisi Militer pada tanggal 22 Juni 1986.
Teks lengkap Sumpah Palapa Gajah Mada, menurut kitab Pararatonadalah: :
“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring
Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda,
Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”
Isinya
menyatakan bahwa Gajah Mada tidak akan berhenti berpuasa sampai seluruh
kerajaan yang namanya disebut dalam sumpah itu dipersatukan dalam kekuasaan
Kerajaan Majapahit.
Patung Raja Brawijaya Pendopo Agung Trowulan yang dinaungi sebuah payung kerajaan, dengan struktur bangunan Pendopo Agung terlihat di latar belakang.
Bagian dalam bangunan Pendopo Agung Trowulan, yang hampir keseluruhannya terbuat dari kayu, kecuali dasar pilar yang menggunakan batu yang berasal dari jaman Majapahit.
Beberapa orang tampak tengah beristirahat di lantai Pendopo Agung Trowulan, sementara beberapa orang lain yang tengah melakukan perawatan terlihat di latar belakang.
Di sebelah belakang Pendopo
Agung Trowulan terdapat
relief yang dipahat pada dinding yang menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit.
Ada pula nama-nama Panglima Kodam Brawijaya dipahat di salah satu bagian
dinding.
Petilasan Panggung, bangunan joglo berukuran lebih kecil yang letaknya di belakang Pendopo Agung Trowulan yang dipisahkan oleh sebuah tembok, adalah lokasi yang dipercaya sebagai tempat dimana Raden Wijaya pernah melakukan semedi sebelum ia membuka pemukiman di hutan Tarik di tepian Sungai Brantas yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Pendopo
Agung Trowulan, karena tempatnya yang luas dan teduh, sering dipergunakan oleh
para pengunjung untuk sejenak beristirahat setelah berkeliling mengunjungi
situs-situs bersejarah yang banyak dijumpai di daerah Trowulan. Sekali setahun,
selama ritual perayaan Tahun Baru Jawa 1 Suro, tempat itu menjadi pusat
kegiatan perayaan yang disebut Grebeg Suro Majapahit, yang menyajikan berbagai pertunjukan
seni tradisional, ritual pembersihan senjata tradisional, serta pagelaran
wayang kulit semalam suntuk.
Pendopo Agung Trowulan
Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan,
Mojokerto, Jawa Timur.
Tidak ada tiket masuk, namun donasi sukarela diharapkan
Mojokerto, Jawa Timur.
Tidak ada tiket masuk, namun donasi sukarela diharapkan
Langganan:
Komentar (Atom)






